| |
February 3rd, 2009
Ini salah satu tempat makan baru di kawasan Renon. Lokasinya tepat di sebrang monumen Bajra Sandhi. Mungkin itu makanya di beri nama Warung Bajras. Tempatnya kayanya asyik buat kongkow kongkow anak muda dengan design modern, wide screen TV, bar. Pelayan datang dengan menu di tangan. Special grilled. Gitu judulnya. Tapi menunya aneka macam, yang menarik perhatian saya adalah Thai foodnya. Saya pesen thai salad dan tom yum. Harganya bikin dahi saya mengkerut. Untuk sebotol aqua 200ml aja di bandrolin Rp. 10,000 (Saya lupa harga persis untuk tom yum dan saladnya) O oww… mudah mudahan rasa makanannya sebanding dengan harganya. Pesanan datang. Waduuuh, pengen nangis rasanya. Baru suapan pertama saya udah bisa mutusin ga akan balik ke tempat ini lagi. Ga sesuai harapan. Tom yumnya rada unik sih krn mereka berimprovisasi dengan menambahkan kecombrang, tapi ga bikin rasanya jadi istimewa. Bau dan rasa amisnya kenceng banget. Thai salad, tom yum, lemon tea & aqua, totalnya sekitar Rp. 66,000. Buat saya itu terlalu mahal untuk kawasan Renon dengan rasa yang saya dapatkan. Ato mungkin saya yang salah pesan. Mereka kan udah bilang special grilled, tapi saya mesennya malah yang bukan jagoan mereka. Pantes aja.
February 3rd, 2009
Ikan bakar lagiii.. Kali ini tempatnya di Renon Jl. Drupadi kalo ga salah :D. Pokok dari Jalan Cok Agung Tresna (satu arah) di sebelah kiri jalan ada papan namanya. Bukanya udah lama, tapi baru 2x pernah kesana. Sebulan yang lalu ma weekend kemarin. Tempatnya lumayan sejuk, parkir luas, menurut saya sih tempat ini ngikut seniornya yang udah terkenal sejak jaman saya baru tahu Bali ‘Warung Be Pasih’. Menu yang di sajikan bukan melulu seafood, di bakar. Tapi ada juga yang di goreng, ada menu ayam juga dan chinese food (capcay doang). Harganya juga masih masuk akal. Kunjungan pertama, cukup berkesan dengan rasa makanannya. Apa iya enak ato karena lapar banget :D. Sesaat sebelum ke tempat ini saya singgah makan di sini, tapi kecewaaaa banget. Yang jelas, kesan pertama kali ke Ulam Segara bikin saya pengen balik lagi kesana. Waktu itu saya pesen ikan bakar, plecing kangkung, cumi bakar sama es kelapa muda. Ga ada yang bersisa. Hehe lagi lagi ga tau, karena enak ato lapar buanget. Naaa.. kedua kali kesana, saya agak kecewa. Koq ga se enak yang pertama. Kali ini saya pesan ikan bakar lagi, pepes ikan, sup ikan, plecing dan es daluman (cincau hijau). Es dalumannya bahkan jauuuuh dari enak. Saya terpaksa pesen minum yang lain, pilih kelapa muda, tapi lagi lagi ga bisa di nikmati karena kaya minum air putih sama sedikit perasan jeruk. Kunjungan yang kedua bikin saya ga pengen datang untuk yang ke tiga kalinya. Bagi penggemar ato mungkin pemilik dari tempat makan ini, kalo kebetulan liat tulisan saya dan jadi sebel, mohon maaf aja. Namanya juga kesan. Soal kata, lidah bisa boong. Soal rasa, lidah ga bisa boong. xixixi… korban iklan.
July 10th, 2008
Pulang ke Menado.
Senyum lebar menghiasi wajah saya. Bayangan akan pertemuan dengan Bunda, kakak2 dan keluarga yang lain serta makanan2 khas di sana membuat saya tidak sabar ingin segera tiba di sana.
Menado salah satu kota yang menawarkan berbagai macam kuliner nikmat yang bisa membuat Anda ingin dan ingin lagi kembali kesana. Sebut saja Nasi kuningnya yang sangat khas di sajikan dengan abon ikan laut dan sambalnya yang pedas. Sekarang yang lagi ng-trend nasi kuning yang di bungkus daun woka *). Yang paling muantep rasanya tuh yang di kampung kodok. Sebungkus 10ribuan. Kemudian makanan paling khas dari Menado yaitu Tinutuan. Yang ini sudah jadi menu sarapan wajib buat saya di hari pertama saya pulang. Banyak warung yang menyediakan bubur satu ini, tapi yang paling populer di kalangan wisatawan yang berkunjung ke Menado mungkin yang yang ada di Makeret. Menikmati hidangan yang satu ini, jangan lupa lengkapi dengan perkedel nike dan tahu rebus ato goreng. Bagi Anda yang berkunjung ke daerah Kotamobagu, tinutuan yang paling uenak versi saya ada di Jl. Golkar, dekat Gelora Ambang, penjualnyaMama Ayu dan satu lagi di dekat lapangan Mogolaing, warung Ma Uci.
Masih banyak hidangan2 lezat khas Menado yang sayang untuk di lewatkan. Jajanannya pun tak kalah serunya. Seperti klappertart, pisgor, bagea, gohu, dan aneka macam kue. Klappertart yang paling yummy bikinan Cella bakery and shop di Paal 2. Agak mahal sih memang, tapi ya panteslah sama rasanya. Bikinan Dynasti juga lumayan dan harganya ga terlalu mahal. Pisgor, alias pisang goreng, bisa Anda temukan hampir di semua warung2 di Menado. Tapi coba Anda pergi ke Malalayang. Di sepanjang pantai Malalayang banyak warung di pinggir jalan yang meghidangkan pisang goreng. Serunya, warung ini ga hanya di pinggir jalan tapi juga di pinggir pantai! Jadi Anda bisa bersantai menikmati pisang goreng sembari menikmati pemandangan laut.
Bicara tentang Menado, sepertinya tak pernah ada habisnya. Mudah mudahan saya bisa menulis lebih banyak tentang makanan khas Menado nantinya. Yang tentunya bisa jadi referensi bagi Anda yang ingin berwisata kuliner ke Menado.
May 27th, 2008
Bukan mention tapi Men Tion. ..
Lokasinya di Jl. By Pass I.B. Mantra Saba, utara Sanur. Sekitar 40 meter ke timur dari lampu merah pantai Saba, sebelah kiri jalan kalo dari Denpasar.
Ga sengaja nemu tempat ini waktu hunting foto ke pantai Keramas, Gianyar. Warungnya bersih, rapi, suasananya sejuk dan nyaman. Yang di hidangkan memang serba ayam dengan bumbu khas Bali. Ada tum ayam, telur ayam pindang, ayam sisit bumbu sereh, ayam goreng kering, dll. Rasanya? Yang ini bisa jadi rekomendasi saya. Enak, bumbunya seger, pedesnya pas, porsinya juga pas dan harganya ga mahal2 amat. Makan ber 2 plus aqua tanggung dan teh botol sosro, cuman 30 ribu Rupiah.

May 1st, 2008
Semalam habis meeting BVRA di villa Baliku - Umalas, saya, Adi, 77 dan Dig singgah makan. Kali ini rekomendasi dari Dig. Soto daging di deket pasar Kerobokan. Lampu merah Jl. Gunung Shangyang, ke arah Canggu, sekitar 100 meter dari lampu merah, kanan jalan. Sebeleah jembatan, parkirannya agak turun. Saya bilang itu warung tenda meskipun ga pake tenda, judulnya ga ada. Jadi kalo mo nyari, tanya tanya aja orang sana ato tukang parkir. Kayanya cuman dia yang jualan soto.
Katanya Dig dari awal, tempatnya kecil tapi rasanya uenak. Weks, saya kalo dah denger gitu (warung kecil tapi enak), kuping ma idung dah gerak2 aja tuh. Hehehee…
Pas kami dateng, pengunjung ga banyak. Cuman ada 2. Umh… beneran enak ga sih. Padahal ini baru jam 9 malam, koq sepi. Kami duduk, tanpa memesan, makanan langsung datang. Maklum, orang duduk di situ apalagi yang mo di makan selain soto, karena yang mereka sediakan memang soto.
Cium aromanya, umh… wangi juga. Rasanya, hehe, ga salah emang. Uenak buanget! Kalo di bandingin sama rasa soto babatnya Wr. Pojok, saya lebih suka yang ini. Wr. Pojok rasa jahenya sering lebih menonjol. Naa yang ini pas. Cuman bagusnya, kalo Wr. Pojok sotonya di campur sayuran, wortel ma lobak yang jadi hiburan di sela2 potongan kolesterol. Tapi soto yang ini sudah pastinya akan saya datangi dan datangi lagi.
Tanpa saya sadari, selesai makan, tempat itu sudah penuh oleh pengunjung. Owlalaaaa… Rasa nikmat soto ini benar benar seperti membuat saya melupakan suasana sekitar. Xixixixxii…
Berapa harga sotonya?? Naaa kalo yang ini saya mesti tanya Dig dulu. Hehee… Semalam dia yang traktir, langsung bayar ke kasir. Jadi ga sempet tau berapa seporsinya. Yang jelas, parkir motor disana bayarnya 500 Rupiah.
Thanks Dig buat traktirannya dan Thanks banget karena udah nunjukin tempat makan enak.
NB. Foto dan nama tempat, menyusul.
March 25th, 2008
Weekend kemarin saya di undang ngumpul2 di Padang Tawang, Canggu, masih dalam suasana Paskah. Undangan ngumpul dari Pak Made Widhana, kalo di flickr ngetopnya dengan 77. Disana yang ngumpul keluarga besar beliau ternyata. Adik2nya, anak2nya, keponakan2nya, ipar2nya dan Ibunda beliau yang tercantik dan tercinta.
Umh… saya mikirnya ini acara keluarga, apa iya saya (dan adi) pantes ada disitu. Tapi sisi lain saya merasa beruntung, tersanjung, terhormat (?) karena mungkin pertemanan kami sedemikian dekat sehingga kami layak berada disitu.
Suasananya penuh kekeluargaan. Senyum dan tawa ga ada hentinya, ada aja kekonyolan2 yang jadi bahan tertawaan. Anak2 kecil seliweran, ada yang nangis ga brenti2. Yang di hidangkan juga simple, tapi berasa! 
Ada wine (baca wain, bukan wini :d), gin, kacang, cake caramel, di susul dinner ala keluarga dengan menu special olahan mereka sendiri. Sate lilit, lawar, sayur urap, dan bbrp temannya yang lain. Dessertnya ada semangka, jeruk dan salak.
Hujan deras banget, ga brenti2. Acaranya berlanjut dengan bahas soal foto, kamera, jepret sana jepret sini. Suasana yang penuh sukacita.
Terima kasih buat 77, 21win, dig, dieyoung, sheko dan keluarga yang lain, yang sudah mengajak kami menjadi bagian dalam perayaan Paskah tahun ini. Sangat berkesan buat saya.
March 18th, 2008
Jalan jalan di Surabaya? Mauuuuu….
2 tujuan utama, Tanggulangin & Tunjungan Plaza :D.
Di Tanggulangin, manjakan diri anda dengan berbagai pilihan tas dan koper. Berbagai ukuran, warna dan bentuk. Tapi ga semua tempat bagus barangnya. Pertama saya pergi ke Intako (industri tas dan koper). Lokasinya agak jauh dari pusat penjualan tasnya. Disini barangnya lumayan banyak, sempat bingung juga milihnya. Tapi ga bagus2 amat. Kemudian saya pergi ke pusatnya, dimana banyak sekali toko2 berjejer di sepanjang jalan. Ada satu tempat/toko yang saya rekomendasikan ke temen2 kalo mau kesana. Namanya Mitra Jaya. Di sini barangnya asli bagus2! Bahan import, kualitas jahitan ok dan model yang up to date. Asli, jangan lewatin toko ini kalo ke Tanggulangin. Harus masuk! :D. Di daerah sini juga ada makanan unik yang baru pertama kalinya saya lihat dan cicipin. Namanya Kupang, sejenis kerang, tapi keciiiill banget. Di sajikan dengan lontong, kupangnya di bumbu terasi. Saya sih ga begitu doyan. Kalo di goreng kering, kali lumayan. Kaya gini nih tampangnya:

Tunjungan Plaza, waaaahhh buat yang suka shopping, mungkin perlu 2 x 12 jam deh buat menelusuri tempat ini. Nyari sepatu ato sendal, kalo punya duit lebih, masuk ke Sogo-nya. Asli bikin ileran. Hehee… Saya aja masuk plazanya sekitar jam 10.30 pagi, banyak toko yang belum buka. Keluarnya jam 10an malam, toko2 dah hampir tutup semua. Sarapan, makan siang ampe makan malam di sana. Hehe.. Masih juga belum ngerasa puas. Masih pengen ke toko ini, pengen balik ke lantai anu. Weleh, pokoknya belum puas! Sayangnya besok paginya udah harus pulang. Hiks.. hiks..
Waktu sarapan di Tunjungan, kayanya saya salah pilih. Di food centernya ada tempat namanya Lai Kie. Ga banget deh. Makan siangnya saya pilih soto ayam Ambengan asli Pak Sadi. Naa yang ini baru TOP BANGET! Uenak tenaaann.. Maknyuss pokoke. Jangan lewatkan yang satu ini juga! Trus makan malamnya, pilihannya salad dari Excelso. Yummyy…

March 18th, 2008
Musim durian tibaaaa…
Sama seperti musim musim sebelumnya, saya pun sempetin pergi (3 minggu lalu) ke daerah dekat Bedugul untuk nyari durian. Ga pernah ngeh nama desanya, pokok sekitar setengah jam sebelum Bedugul kalo dari Denpasar. Di daerah ini banyak penjual durian di pinggir jalan. Cuman kali itu kurang memuaskan. Duriannya ga beneran enak. Huuuhhh… cape deee… udah jauh jauh kesana.
Naaa truuusss….
Saya pun mesti pergi ninggalin musim durian yang baru aja mulai di Bali. Pergi ke kampung halaman nun jauh di Sulawesi Utara. Tepatnya di Kecamatan Dumoga, Kabupaten Bolaang Mongondow. Ternyata eh ternyata, durian di rumah juga lagi berbuah. Bangkok pula! Perkiraan sebulan lagi baru mulai mateng, gigit jari deh. Tiap kali berbuah (ini yang ke 2 ), ga pernah dapet nyicipin. Padahal kali ini berbuahnya buanyak. Ada 49! Tapi meskipun di bilangin masih lama matengnya dan ga bakalan ada yang jatuh, saya tetep setia nungguin di bawah pohonnya (agak minggiran dikit mksdnya, kalo pas di bawahnya, beneran ada yang jatoh, mampus aja!). Hari pertama, ga ada. Hari kedua, ketiga, ke empat, ke lima, sampe hampir seminggu di rumah. tetep ga ada jatuhannya. Pas seminggu, bangun pagi, eh ada 2 durian tergeletak. Wahahahaaa.. ternyata beneran mulai berjatuhan. Tiap hari jatuh 1. Sehari saya naik pohonnya 3-4 kali, nyiumin satu2. Ga puas sih karna saya udah mesti balik lagi ke Bali. Padahal yang jatuh baru 6. Udah gitu, tiap jatuh mesti di bagi berbanyak. Di rumah ada banyak orang, bunda, kakak, om, tante, sepupu2. Weleeh, pokok tiap jatuh, seorang kebagian sebiji. Paling banyak 3 biji. Hiks..hiks..
Pokok… ini durian paling enak yang pernah saya nikmati. Pohonnya di rumah sendiri, makannya pas baru jatuhan. Umh… Kalo ada yang berminat berkunjung ke rumah saya di sana, kita pergi aja pas beneran musim durian. Karna biasanya, musimnya samaan dengan musim rambutan, manggis dan duku. Rame pokoknya. Di rumah saya, kalian bisa makan rambutan sampe gondrong! Hehe..
February 21st, 2008
Baru habis nonton Oprah Winfrey Show. Episode kali ini tentang orang orang yang menghabiskan waktunya mengasuh anak2 yang terlantar, tidak mampu. Ada yang mendirikan sekolah gratis, mendirikan fasilitas umum gratis seperti arena olah raga dan bermain.
umh… jadi inget cita cita saya pengen punya rumah singgah ato apalah namanya pokok bisa menampung anak anak yang tidak mampu, yang terlantar, yang tidak punya keluarga. Mereka bisa makan gratis, punya tempat untuk tidur, punya mainan, bisa belajar. Saya sering miris liat anak anak kecil yang ngemis ato anak2 di kampung yang putus sekolah ato yang tidak pernah menikmati makanan yang cukup gizi untuk pertumbuhan mereka.
Tapi saya bingung memulainya. Bagaimana, dengan siapa… Ada ketakutan membayangi. Gimana kalo orang tuanya ga setuju, gimana kalo kekurangan dana, gimana kalo kekurangan tenaga seperti pengasuh, pengajar, gimana kalo ini, gimana kalo itu… Siapa yang mau bersukarela mengasuh mereka, sukarela mengajari mereka, siapa yang akan menjadi donatur tetap?
Saya berharap ada yang baca postingan ini yang punya cita cita sama dengan saya. Semoga ini bisa terwujud.
February 6th, 2008
Mumpung temen2 lagi rame ngomongin soal sate ikan, saya mo bahas dikit soal ini.
Kalo temen2 kebetulan pergi ke pulau Serangan di hari biasa (bukan pada saat Kuningan), di pinggir jalan deket jembatan, ada penjual sate ikan yang enak. Ini sate ikan paling enak yang pernah saya makan. Lebih mahal dari tempat lain, tapi wajar aja sih buat sate enak dengan ikan yang seger yang bisa di nikmati.
Ngomongin soal sate ikan, di hari hari biasa, ga banyak kita bisa temui penjual sate ikan. Mereka memang mangkal di tempat2 tertentu, tapi kalo hari biasa, di tempat tertentu inipun jarang adanya. Naa kalo pas ada perayaan, di pura pura terutama (pura ato temple loh, bukan pura2 ga liat), seperti pura Sakenan dan Besakih, banyaaak sekali pedagang sate yang muncul. Mungkin ini yang namanya tukang sate musiman. Sepanjang jalan, dari tempat parkir sampai pintu masuk menuju pura, anda bisa temui banyak penjual sate. Sate yang mereka tawarkan umumnya sate ikan, tapi ada juga sate babi dan sate penyu (katanya sih, tapi apakah itu beneran penyu, saya ga tau).
Sate ikan memang nikmat, apalagi kalo di santapnya masih anget2. Tapi anda harus hati2, karena tidak semua sate yang di tawarkan menggunakan ikan yang segar. Saya rasa mereka sudah memperkirakan akan membludaknya pengunjung sehingga para penjual sudah nyetok (menyiapkan) ikan beberapa hari sebelumnya. Karena kalo mendadak beli (bukan mendadak dangdut), pasti ga bakal kebagian. Bila anda kebetulan apes, dapet sate ikan yang ga seger, anda pasti akan menderita sakit. Diantaranya diare dan gatal2. Saya sebutkan dua akibat ini karena kami sudah mengalaminya. Saya pernah makan sate ikan di pura Besakih, Karangasem. Sehabis sembahyang, saya tergiur melihat jejeran sate yang sedang di panggang. Wanginya menggoda. Sayapun membeli dan langsung menyantapnya. Ummhh… uenaakkk. Kurang dari satu jam setelah itu, wajah saya memerah. Mulai gatal2. Ga lama kemudian seluruh badan saya udah merah, wajah saya bengkak. Saya yakin itu akibat sate ikan yang saya makan. Kemudian, belum lama ini ada beberapa teman yang mengalami kejadian serupa. Waktu kami hunting (motret) di pura Sakenan, pulau Serangan pada perayaan hari Kuningan, beberapa teman saya yang nyampe duluan di lokasi, makan sate. Sayapun menyusul makan sate tapi di tempat yang berbeda. Pulang ke rumah, saya dengar teman2 ngeluh mules, mencret, dll. Kebetulan saya nggak. Saya pikir itu akibat sate ikan. Kebetulan teman2 lagi apes dapat sate ikan yang ga seger.
Bagaimana membedakan sate ikan yang seger dengan yang ga seger?? That is the question :D. Terus terang, kalo saya sendiri hanya melihat dari kerubutan lalat. Semakin banyak lalat yang ngerubutin, semakin ga seger ikannya. Anda juga bisa mencobanya terlebih dulu. Ambil setusuk, bilang sama penjualnya mo coba dulu. Kalo satenya lembek, kurang kenyal, bisa di pastikan, itu ikan kurang seger. Anda bisa bayar satu tusuk sate saja dan pindah ke penjual lain.
Bagi anda yang punya tips memilih ikan/sate ikan yang seger ato ga, ato tau tempat sate ikan yang enak, silahkan di bagi bagi 
|
|